Thursday, 20 July 2017 - Buka jam 09.00 s/d jam 20.00 , Minggu libur
Home » Uncategorized » ” Belajar dari Semur Jengkol “
Keranjang Belanja Anda
Jumlah Barang : pcs
Jumlah Nama Barang Total
0 Rp 0,00
keranjang anda kosong

* Klik tombol di bawah ini untuk menyelesaikan pemesanan.

” Belajar dari Semur Jengkol “

19 November , 2014 , Category : Uncategorized

“Belajar Dari Semur Jengkol”

Seorang istri (sebut saja Nur) mengeluhkan betapa pelitnya tetangga di seberang rumah. Kemarin Nur mencium aroma sedap semur jengkol yang sedang dimasak si tetangga sehingga terbitlah selera untuk mencicipi dan meminta barang sedikit semur jengkol masakan tetangga. Namun malang tak dapat ditolak. Si tetangga enggan berbagi. Betapa dongkolnya hati Nur mendapat penolakan tetangganya itu. Padahal selama ini selalu berbuat baik dan sering memberikan makanan yang ia masak kepada si tetangga.

“Sudahlah,” kata si suami, “Kalau kepingin makan semur jengkol, kamu kan bisa beli di warung. Atau kamu bisa memasaknya sendiri. kenapa harus sewot seperti itu.”

“Yang Nur kesalkan, selama ini kan kita selalu baik kepada mereka, tetapi mengapa mereka sepertinya tak mau membalas budi?” Kata si istri.

“Sifat manusia kan macam-macam. Kejadian ini mungkin bisa jadi buat pelajaran bagi kita.” kata si suami.

“Ya, kita bisa beri pelajaran kepada mereka agar tau caranya berterimakasih.” Kata istrinya menimpali.

“Bukan begitu. Maksudku agar kita berusaha untuk belajar ikhlas, yaitu tak berharap kembali apalagi mengharapkan balasan yang lebih ketika memberi.” Kata si suami. Sambil merubah posisi duduknya, kemudian ia melanjutkan, “Kalau mau belajar ikhlas, berilah kebaikan kepada orang yang tak pandai berterimakasih. Keengganan mereka untuk membalas budi menjadi tolok ukur seberapa ikhlas kita dalam memberi. Kalau masih ada kejengkelan di hati kita karena mereka tak tau membalas budi, itu artinya kita masih belum ikhlas.” Lanjut si suami.

“Wah itu berat sekali dan merepotkan. Kalau mereka tidak mau membalas kebaikan yang kita berikan, ya sudah, kita juga tidak perlu memberi kebaikan kepada mereka.” Sanggah si istri

“Iya sih, ikhlas itu memang terasa sangat berat. Seperti naik sepeda juga terasa sangat sulit pada awalnya.  Sangat sedikit orang yang bisa seperti itu. “Namun bagaimanapun, kita memang harus selalu terus belajar ikhlas dan selau berusaha untu berbuat baik. Tanpa itu mungkin kita tak akan pernah menjadi orang yang baik. Satu hal yang perlu kita garis bawahi. Bagaimanapun, selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami. ITU!” Kata si suami menirukan dengan jenaka gaya khas pak Mario Teguh ketika mengakhiri pembicaraannya. Si istri hanya tersenyum simpul melihat tingkah suaminya.

” Belajar dari Semur Jengkol “

19 November , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Belajar dari Semur Jengkol “

“Belajar Dari Semur Jengkol” Seorang istri (sebut saja Nur) mengeluhkan betapa pelitnya tetangga di seberang rumah. Kemarin Nur mencium aroma sedap semur jengkol yang sedang dimasak si tetangga sehingga terbitlah selera untuk mencicipi dan meminta barang sedikit semur jengkol... baca selengkapnya

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

19 November , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “ Apa tanggapan anda jika seandainya saya ingin memproduksi celana jeans dengan merk ‘Abdul Kahar Kongah’? Besar kemungkinan anda tidak setuju. Dan kalau saya tanyakan mengapa, toh Levi strauss menggunakan namanya untuk... baca selengkapnya

” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “

1 September , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “

” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “ Penulis : Abdul Kahar Kongah Pak Sugih bisa dibilang orang kaya dan terpandang di desanya.Tapi mungkin ia merasa belum puas denga napa yang ia miliki sekarang. Belakangan ini ia tampak gelisah dan... baca selengkapnya

” Tak Perlu Putus Asa “

1 September , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Tak Perlu Putus Asa “

” Tak Perlu Putus Asa ” Penulis : Abdul Kahar Kongah Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang kakek kerempeng yang dengan hanya sekali pukul, sebongkah batu besar hancur berkeping-keping. Padahal sebelumnya seorang anak muda kekar, kuat dan sehat... baca selengkapnya

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

30 April , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “ Penulis : Abdul Kahar Kongah Ketika guru sekolah Al menyerah dan menyebutnya anak dungu dan selalu bertanya yang aneh-aneh, ibunya marah dan berkata pada guru tersebut: “He’s bright boy and obviously too intelligent... baca selengkapnya

Statistik Website

Flag Counter