Friday, 24 November 2017 - Buka jam 09.00 s/d jam 20.00 , Minggu libur
Home » Uncategorized » ” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “
Keranjang Belanja Anda
Jumlah Barang : pcs
Jumlah Nama Barang Total
0 Rp 0,00
keranjang anda kosong

* Klik tombol di bawah ini untuk menyelesaikan pemesanan.

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

19 November , 2014 , Category : Uncategorized

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

Apa tanggapan anda jika seandainya saya ingin memproduksi celana jeans dengan merk ‘Abdul Kahar Kongah’? Besar kemungkinan anda tidak setuju. Dan kalau saya tanyakan mengapa, toh Levi strauss menggunakan namanya untuk merek jeans buatannya yang konsumennya adalah para penambang emas di San Francisco? Anda akan menjawab, karena merk ‘Abdul Kahar Kongah’ itu tidak keren, tidak menjual, kampungan, tidak bergengsi dan yang senada dengan itu walaupun sekiranya mutu jeans tersebut sama dengan merk levi’s, desainnya ‘keren abis’, harganya jauh lebih murah dan konsumennya hanyalah dari kalangan petani dan nelayan di pelosok nusantara.

Anda tidak sendiri bila menganggap merk jeans ‘Abdul Kahar Kongah’ itu kesannya kampungan dan ‘nggak keren’. Itulah sebabnya pada tahun 1973 sebuah produsen denim memperkenalkan produk perdananya justru di Singapura. Sasarannya jelas yaitu orang-orang Indonesia yang melancong dan berbelanja kesana . Kenapa Singapura? Tentu saja untuk mendongkrak citra atau gengsi dari produk fashionnya. Bukankah Singapura khususnya dan luar negeri umumnya pada waktu itu (juga sekarang) merupakan simbol gengsi, sesuatu yang berkelas dan berkualitas. Waktu itu bila anda bisa berbelanja ke Singapura itu berarti anda orang kaya dan punya status sosial yang tinggi di masyarakat. Dengan kata lain masyarakat kita dulu– juga kini– masih ‘abroad minded’, ‘American minded’ ataupun ‘Western minded’. Apa yang dari luar atau berbau luar, akan dianggap pasti up to date, keren dan bergengsi. Sehingga merek yang disematkan pada fesyen tersebut haruslah yang berbau Barat. Mereka memilih nama ‘Lea’, nama kakak si pemilik perusahaan. Tak heran bila hingga kini, masih banyak orang Indonesia yang mengira bahwa celana jeans merk Lea merupakan produk luar. Dari sisi strategi pemasaran, apa yang dilakukan oleh Lea, tentu merupakan sesuatu yang brilian. Tapi kita tidak melihatnya dari sudut pandang produsen, tepi dari sisi konsumen yang menunjukkan bahwa betapa preferensi (pertimbangan dalam membeli) konsumen Indonesia masih terjebak pada perspektif snobisme dan cenderung memuja apa yang datang dari luar sehingga lebih sering megabaikan rasionalitas, apalagi empati dalam membeli. Empati dalam membeli? Berempati untuk siapa?

Kita tidak anti terhadap produk asing ataupun menutup diri dari hal-hal yang datang dari luar. Dalam hal preferensi membeli, kita patut mencontoh sikap orang Jepang dan Korea. Mereka begitu mencintai produk-produk dalam negerinya sendiri. Bahkan mereka rela memberi barang-barang produk dalam negeri dengan harga lebih mahal dengan kualitas yang lebih rendah dari pada membeli produk luar. Ini bukan sekedar sikap nasionalisme atau patriotisme apalagi chauvinistik. Ini karena mereka benar-benar sadar. Kebanggaan mereka terhadap produk dalam negeri merupakan salah satu tonggak kekuatan ekonomi negaranya dan kemakmuran rakyatnya. Ini akan menjadi semacam efek domino yang positif. Dengan mengkonsumsi produk dalam negeri, secara tidak langsung mereka telah menggairahkan dan menguatkan industri negaranya. Dengan berkembangnya industri tentu akan semakin memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan daya beli yang tentu saja secara otomatis mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. Membeli produk dalam negeri hanyalah salah satu pilar dalam menegakkan perekonomian suatu negara, tapi bagaimanapun ini merupakan satu pilar yang sangat penting sehingga pemerintah manapun selalu menyerukan warganya untuk membeli produk dalam negerinya. Mereka juga melakukan berbagai upaya agar produk-produk dalam negerinya dapat terserap oleh pasar baik domestik maupun luar negeri. Bahkan Amerika yang dikenal sebagai lokomotif globalisasi atau perdagangan bebas, masih menerapkan proteksi terhadap industri-industri kecil dan menengah yang masih belum stabil, begitu juga prorteksi terhadap komoditas pertanian yang menguasai hajat hidup orang banyak. Selain itu masih banyak negara maju melakukan praktek dumping, yaitu menjual barang ke luar negeri dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasar di negara tempat barang tersebut diproduksi. Tindakan inilah yang paling sering dilakukan oleh Cina, Jepang dan Korea walaupun hal ini merupakan tindakan yang tidak etis dalam perdagangan antar negara.

Kalau kita lihat balakangan ini, serbuan barang-barang impor seperti tak terkendali, khususnya barang-barang dari China, Korea dan Jepang. Sekitar 250 juta penduduk Indonesia dengan preferensi membeli yang masih terobsesi dengan produk-produk luar, merupakan pasar yang begitu mengggairahkan buat mereka. Sayangnya pemerintah kita tidak cukup tangkas dalam menghadang serbuan tersebut dan tak cukup mampu dalam melindungi industri dalam negerinya, khususnya industri mikro, kecil dan menengah. Tentu saja ini berdampak buruk bahkan membahayakan perekonomian nasional atau lebih khusus perekonomian rakyat. Begitupun, seandainya kita menganggap pemerintah kurang mampu mengantisipasi dan pelaku usaha masih lemah daya saingnya, maka kita masyarakat Indonesialah yang harus menjadi pilar ketiga demi tegaknya perekonomian negara kita, sebagaimana sikap masyarakat Jepang dan Korea yang begitu mencintai produk dalam negerinya demi menggerakkan perekonomian negaranya. Kita mungkin lemah dalam daya beli, tapi kita tidak boleh lemah dalam empati. Ini mirip bantuan atau koin Prita ( Semoga Anda masih ingat ). Bila masyarakat secara massif tergerak untuk membantu, walaupun kecil yang diberikan, namun hasilnya akan luar biasa. Bila kita bisa bersikap lebih memprioritaskan untuk membeli produk-produk dalam negeri daripada produk luar, secara signifikan sektor-sektor riil khususnya usaha mikro, kecil dan menengah akan bergerak maju.

Dengan majunya industri dalam negeri, tentu akan memberi dampak positif bagi perekonomian kita sebagai rakyat Indonesia. Jadi kalau anda ingin Indonesia lebih sejahtera, belilah celana jeans merk ‘Abdul Kahar Kongah’. Eh salah, maksudnya belilah produk-produk dalam negeri. Singkatnya, membeli produk-produk dalam negeri merupakan sebuah langkah kecil dan sederhana untuk Indonesia yang lebih baik.

” Belajar dari Semur Jengkol “

19 November , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Belajar dari Semur Jengkol “

“Belajar Dari Semur Jengkol” Seorang istri (sebut saja Nur) mengeluhkan betapa pelitnya tetangga di seberang rumah. Kemarin Nur mencium aroma sedap semur jengkol yang sedang dimasak si tetangga sehingga terbitlah selera untuk mencicipi dan meminta barang sedikit semur jengkol... baca selengkapnya

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

19 November , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “ Apa tanggapan anda jika seandainya saya ingin memproduksi celana jeans dengan merk ‘Abdul Kahar Kongah’? Besar kemungkinan anda tidak setuju. Dan kalau saya tanyakan mengapa, toh Levi strauss menggunakan namanya untuk... baca selengkapnya

” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “

1 September , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “

” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “ Penulis : Abdul Kahar Kongah Pak Sugih bisa dibilang orang kaya dan terpandang di desanya.Tapi mungkin ia merasa belum puas denga napa yang ia miliki sekarang. Belakangan ini ia tampak gelisah dan... baca selengkapnya

” Tak Perlu Putus Asa “

1 September , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Tak Perlu Putus Asa “

” Tak Perlu Putus Asa ” Penulis : Abdul Kahar Kongah Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang kakek kerempeng yang dengan hanya sekali pukul, sebongkah batu besar hancur berkeping-keping. Padahal sebelumnya seorang anak muda kekar, kuat dan sehat... baca selengkapnya

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

30 April , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “ Penulis : Abdul Kahar Kongah Ketika guru sekolah Al menyerah dan menyebutnya anak dungu dan selalu bertanya yang aneh-aneh, ibunya marah dan berkata pada guru tersebut: “He’s bright boy and obviously too intelligent... baca selengkapnya

Statistik Website

Flag Counter