Thursday, 20 July 2017 - Buka jam 09.00 s/d jam 20.00 , Minggu libur
Home » Uncategorized » ” Ketika Anak Terlihat Berbeda “
Keranjang Belanja Anda
Jumlah Barang : pcs
Jumlah Nama Barang Total
0 Rp 0,00
keranjang anda kosong

* Klik tombol di bawah ini untuk menyelesaikan pemesanan.

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

30 April , 2014 , Category : Uncategorized

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

Penulis : Abdul Kahar Kongah

Ketika guru sekolah Al menyerah dan menyebutnya anak dungu dan selalu bertanya yang aneh-aneh, ibunya marah dan berkata pada guru tersebut: “He’s bright boy and obviously too intelligent to be in school. I think I’ll teach him self!”  (Dia anak yang cemerlang dan benar-benar terlalu pintar untuk dididik di sekolah! Saya akan mendidiknya sendiri!). Kemarahan dan penolakan nyonya Edison bukanlah tanpa alasan. Sebagai seorang ibu, nyonya Edison tentu tahu betul siapa anaknya dan ia yakin bahwa tuduhan itu tidak benar. Kalau anaknya disekolah terlalu banyak bertanya tentang hal yang aneh-aneh sehingga merepotkan gurunya, bukan berarti dia anak yang abnormal. Begitupula bila Al terlalu disibukkan oleh hal-hal lain sehingga mengabaikan dan tidak memahami pelajaran sekolahnya, bukan berarti dia anak yang bodoh. Memang dia agak berbeda dari anak yang lainnya, tapi jangan anggap Edison anak yang tidak normal. Mungkin begitu tanggapan nyonya Edison. Beliau benar, Thomas Alpha Edison tumbuh menjadi sebagaimana yang kita kenal, sebagai salah seorang inventor terbesar di dunia.

Kejadian yang sama dialami Totto-chan. Mungkin anda pernah baca kisahnya. Ketika melewati peron stasiun kereta api, Totto-chan, kelas 1 sekolah dasar, bilang sama mama kalau sudah besar ia ingin menjadi penjual karcis kereta api. “Bukankah kamu kamarin ingin jadi mata-mata?” Totto-chan diam, tapi tak lama. Seolah mendapat gagasan besar, dengan penuh semangat ia berkata, “Aku ingin menjadi penjual karcis yang juga seorang mata-mata!” Begitu pula ketika ia melihat rombongan pemusik, ia bercita-cita menjadi pemusik. Minat, keinginan atau cita-citanya berubah-ubah. Namun bukan itu yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah seminggu lalu. Totto-chan membuat kekacauan di ruang kelas. Seminggu mama dipanggil ke sekolah untuk mendengarkan keluhan guru kelasnya. “Di kelas ia membuka-tutup meja berulang-ulang selama satu jam. Setelah selasai dengan itu ia menuju ke jendela dan berdiri disana sambil pandangannya menerawang ke luar. Ketika para pemain musik jalanan lewat, ia berlari keluar meminta mereka untuk memainkan musik. Seketika halaman kelasnya riuh dengan bunyi gong, klarinet, genderang dan simasen (alat musik khas Jepang). Ia pun memanggil teman-teman sekelasnya untuk menikmati pertunjukan dan seketika teman-temannya ikut bergabung”. Kata ibu guru mengeluh pada mama. Masih ada beberapa lagi kenakalan Totto-chan yang membuat ibu guru merasa putus asa sehingga meminta mama memindahkannya ke sekolah lain. Mama sangat bersimpati dengan keluhan ibu guru, namun ia juga bisa memahami apa yang dilakukan Totto-chan khususnya ketika ia ‘bermain’ buka-tutup meja berulang-ulang. Dia ingat bagaimana bersemangatnya Totto-chan waktu pulang sekolah di hari pertama. Katanya, “Sekolah asyik sekali! Mejaku di rumah ada lacinya yang bisa ditarik, tapi meja di sekolah ada tutupnya yang bisa dibuka ke atas. Meja itu seperti peti, dan kita bisa menyimpan apa saja di dalamnya. Keren sekali!” Mama membayangkan Totto-chan yang dengan riang membuka dan menutup meja barunya. Mama tidak menganggap itu perbuatan nakal. Totto-chan tentu akan berhenti melakukannya jika sudah bosan. Syukurlah mama akhirnya menemukan sekolah baru yang cocok untuk Totto-chan.

Memang butuh kebijaksanaan atau kedewasaan yang lebih dalam m

” Belajar dari Semur Jengkol “

19 November , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Belajar dari Semur Jengkol “

“Belajar Dari Semur Jengkol” Seorang istri (sebut saja Nur) mengeluhkan betapa pelitnya tetangga di seberang rumah. Kemarin Nur mencium aroma sedap semur jengkol yang sedang dimasak si tetangga sehingga terbitlah selera untuk mencicipi dan meminta barang sedikit semur jengkol... baca selengkapnya

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

19 November , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “

” Celana Jeans Merk ‘Abdul Kahar Kongah “ Apa tanggapan anda jika seandainya saya ingin memproduksi celana jeans dengan merk ‘Abdul Kahar Kongah’? Besar kemungkinan anda tidak setuju. Dan kalau saya tanyakan mengapa, toh Levi strauss menggunakan namanya untuk... baca selengkapnya

” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “

1 September , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “

” Keinginan Yang Tak Pernah Puas “ Penulis : Abdul Kahar Kongah Pak Sugih bisa dibilang orang kaya dan terpandang di desanya.Tapi mungkin ia merasa belum puas denga napa yang ia miliki sekarang. Belakangan ini ia tampak gelisah dan... baca selengkapnya

” Tak Perlu Putus Asa “

1 September , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Tak Perlu Putus Asa “

” Tak Perlu Putus Asa ” Penulis : Abdul Kahar Kongah Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang kakek kerempeng yang dengan hanya sekali pukul, sebongkah batu besar hancur berkeping-keping. Padahal sebelumnya seorang anak muda kekar, kuat dan sehat... baca selengkapnya

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

30 April , 2014 , Kategori : Uncategorized
” Ketika Anak Terlihat Berbeda “

” Ketika Anak Terlihat Berbeda “ Penulis : Abdul Kahar Kongah Ketika guru sekolah Al menyerah dan menyebutnya anak dungu dan selalu bertanya yang aneh-aneh, ibunya marah dan berkata pada guru tersebut: “He’s bright boy and obviously too intelligent... baca selengkapnya

Statistik Website

Flag Counter